Minggu, 03 Juli 2011

PETA WISATA DESA BANJAROYA

FORUM PEL DESA BANJAROYA


Sesuai dengan visi Pemerintah Desa Banjaroya untuk mengembangkan kawasan agropolitan dan meningkatkan perekonomian masyarakat, baru-baru ini Pemerintah Desa Banjaroya bersama Pusat Study Asia Pasific (ASPAC) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM), memprakarsai terbentuknya Forum Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL). Forum ini bertujuan untuk lebih mengoptimalkan program pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan potensi unggulan lokal secara terintegrasi dan berkesinambungan. Forum PEL terdiri dari unsur masyarakat, pemerintah, LSM dan akademisi. Di Banjaroya forum PEL terbagi menjadi tiga pokja, yaitu pokja pertanian, pokja industri dan pokja pariwisata. Pembagian pokja-pokja tersebut dilakukan berdasarkan potensi dan kemampuan masyarakat desa Banjaroya.

Kepala Desa Banjaroya, Wiwin Windarta dalam sambutanya menyampaikan bahwa kunci dari keberhasilan adalah kemampuan untuk melihat, mencipta dan menangkap peluang. Keberadaan PEL diharapkan mampu untuk mengatasi kendala-kendala yang selama ini muncul dalam pelaksanakan program pembangunan ekonomi berbasis pemberdayaan masyarakat. Lebih lanjut kepala desa Banjaroya menyatakan bahwa forum PEL jangan hanya menjadi organisasi tanpa gigi, tetapi harus menjadi sebuah lembaga yang aktif dan kreatif dalam mengembangkan ekonomi Banjaroya serta memperluas jaringan.


sumber : banjaroya.com

Senin, 07 Februari 2011

Produk Pariwisata Harus Memiliki Daya saing

Memasuki tahun 2011 ini , pemerintah masih fokus untuk menggarap pangsa pasar wisatawan mancanegara untuk mendorong peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia. pemerintah sendiri sudah mentargtkan angka 7, 7 juta wisatawan dalam Visit Indonesia 2011 ini. Namun yang masih perlu ditingkatkan, menurut Direktur Eksekutif Yogya Tourism Development Board -Wiendu Nuryati selama ini banyak produk pariwisata Indonesia yang masih lemah dalam desain, keunikan dan kualitas produk. Sehingga banyak produk pariwisata nasional kita kalah dalam daya saing eksport.

"Daya saing eksport produk pariwisata kini menjadi bagian penting, tidak hanya promosi namun juga maintenance, finishing produk hingga marketing," jelas Wiendu Nuryati hari ini , Jumat (4/2/11).

Ditambahkan, alasan menggarap pangsa pasar wisatawan mancanegara juga disadarai bahwa spend of moneyyang dikeluarkan [para wisatawan ini sangat tinggi. Selama tahun 2010 pengeluaran wisatawan ini mencapai 7,6 milyar dollar AS naik sekitar 20,63% dibanding tahun 2009 yang hanya berjumlah 6,3 milayar dollar AS.

Selain itu jumlah pengguna angkutan udara juga mengalami peningkatan selam tahun 2010 dengan total penumpang mencapai 43,11 juta naik sekitar 22,77% dibanding tahun 2009.

Untuk mensukseskan Visit Indonesia 2011, Wiendu berharap pemerintah serius meningkatkan aksesbilitas pelayanan untuk wisatawan termasuk transportasi, informasi pariwisata maupun peningkatan kualitas SDM pariwisata.

Untuk pariwisata Jogja sendiri, Wiendu masih optimis pariwisata Jogja akan lebih baik dibanding tahun 2010. Kuncinya, kualitas produk harus menarik, unik dan berdaya saing.

seperti di tulis Mas Nur Hidayat pada http://visitingjogja.com/index.php?mod=nwsdet&id=885

Selasa, 25 Januari 2011

Pengerukan saluran Irigasi Kalibawang Dihentikan Sementara


Jumat, 21 Januari 2011 16:50:00
Ilustrasi. (Foto : Dok)

Pemkab Kulonprogo menghentikan sementara pengerukan saluran irigasi Kalibawang yang tertutup material vulkanik Gunung Merapi. Hingga saat ini, saluran tersebut belum dapat mengalirkan air pertanian secara kontinyu.

“Pekerjaan pengerukan akan dilanjutkan setelah arus air Sungai Progo tidak lagi membawa material vulkanik Gunung Merapi,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan, Ir Muh Aris Nugroho di Kulonprogo, Jumat (21/1).

Banjir lahar dingin yang mengalir ke Sungai Progo, tambahnya, berdampak terhadap pertanian di wilayah DI Kalibawang I dan DI Kalibawang II. Sawah irigasi teknis di kedua DI tersebut, meliputi sawah irigasi teknis di Kecamatan Kalibawang, Nanggulan, Sentolo, sebagian Kecamatan Samigaluh dan Kecamatan Girimulyo.

Sawah seluas kurang lebih 3.000 hektar tidak mendapat suplay air karena Saluran Kalibawang tertutup material vulkanik Gunung Merapi. Menurutnya para petani di MT pertama padi di wilayah DI Kalibawang I dan DI Kalibawang II tetap menanam padi.

Sejak suplay air dari Saluran Kalibawang terhenti, katanya, kebutuhan air pertanian mengandalkan dari curah hujan. “Usai panen padi di bulan Februari 2011 mendatang, untuk MT kedua berikutnya dengan mengandalkan air hujan masih memungkinkan petani menanam padi,” jelasnya. (Ras)


Sumber : KRjogja.com